Posts

Rambut

Jika menggunting rambut adalah bagian dari ekspresi patah hati seseorang, bisakah kau membayangkan seberapa pendek rambut seorang perempuan yang merasakan patah hati berulang kali? Kau tidak akan melihat rambutnya panjang terurai. Bahkan, mungkin tak ada helai yang dapat melewati bahunya yang selalu naik-turun akibat tarikan nafas panjang. Sekuat tenaga menutupi luka menganga dan hanya bisa mengusap dada. Ia kira kenangan yang membuat patah hati itu akan lenyap bersama helai rambut yang terbuang. Nyatanya kenangan itu mengakar dan akan selalu tumbuh dari waktu ke waktu. Tidak ada yang berubah. Kali ini, lagi.. ia memutuskan untuk menggunting rambutnya. Semakin pendek. Lagi.. ia kembali patah hati.

I'm Back!

Hello, universe! Suatu keajaiban bisa menulis lagi. Dan kenapa bisa menulis lagi? Lantas kenapa di blog? Beberapa waktu lalu seseorang ternyata menemukan blog usang ini dan mengingatku kembali. Dulu, aku menulis di sini hanya iseng dan sebatas arsip pribadi saja. It's been a loooong time. Sampai cari email mana yang didaftarkan dan reset password segala! Jumat, 19 Juli 2019 aku dirawat di rumah sakit di Gading Serpong, Tangerang Selatan. Aku dirujuk ke spesialis ahli saraf. Saat malam hening itu, aku terbaring seorang diri di ruangan. Aku termenung dan memikirkan banyak hal, termasuk orang yang membawaku pada kenangan blog ini. Kemudian aku berpikir.. Ketika aku hilang, apa yang akan dikenang? Apakah kebaikan? Belum tentu. Atau orang-orang akan melupakanku? Entahlah. Aku ingin dikenang. Aku ingin dikenang lewat tulisan. Kelak ketika ada orang yang membaca tulisanku, saat itulah momen yang akan menjadi tanda bahwa aku pernah ada. Ya, aku pernah ada.. Aku pernah berjuan...

Literary Journalism: Ketika Kaki-kaki Mungil Menapaki Bumi

Image
  “Ikut! Ikut! Ikut!” Fauzan selalu menyebut kata yang sama berulang-ulang dengan semangat. Sesekali dia merangkul ibunya dengan penuh kehangatan. Entah apa yang dimaksudkan Fauzan. Hendak ikut ke mana? Hiking ? Justru Fauzan dan ibunya sedang hiking . Kak Mei, ibu Fauzan tetap tersenyum dan tak bosan menanggapi celoteh Fauzan itu. Mungkin itu merupakan bentuk penegasan Fauzan bahwa ia ingin selalu bersama ibunda tercinta. Tiap minggu Kak Mei selalu menemani Fauzan untuk hiking . Bukan karena hobi, melainkan terapi. Fauzan tidak sendiri. Di sana banyak teman lainnya yang menyandang kebutuhan khusus seperti Fauzan. Mereka tidak hanya berasal dari Bandung tapi dari luar kota seperti Jakarta dan Sukabumi. Fauzan dan teman-temannya tergabung dalam kelompok hiking yang diberi nama Little Footprint. Kaki-kaki mungil itu mencium bumi. Setiap pijakannya melekat sebuah harapan. Harapan yang sama, memperoleh keseimbangan fisik dan mental serta merasakan tumbuh kembang seperti anak...

Recomended Film "Dead Poets Society"

Image
Dead Poets Society Friends, this film is recomended for you who loves poetry.   Dead Poets Society adalah film Amerika   produksi 1989  yang bercerita tentang seorang pengajar bahasa Inggris  di sebuah sekolah khusus laki-laki pada 1950-an  yang memberi inspirasi muridnya untuk selalu membuat perubahan dalam hidup mereka dan mengajak mereka tertarik puisi. Film berlatar di Akademi Welton di Vermont,  syuting asli bertempat di St. Andrew's School di Delaware.  Sebuah buku, yang diadaptasi dari skenario film ini, juga diterbitkan dalam judul yang sama (sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia) ditulis oleh Nancy H. Kleinbaum. Tujuh anak lelaki, Neil Perry (Robert Sean Leonard),  Todd Anderson (Ethan Hawke) , Knox Overstreet (Josh Charles) , Charlie Dalton (Gale Hansen) , Richard Cameron (Dylan Kussman) , Steven Meeks (Allelon Ruggiero) dan Gerard Pitts (James Waterston) baru saja masuk Akademi Welton. Sekolah ini adalah sekola...

Analysis of The Poem “I Never Saw a Moor” by Emily Dickinson Based on Its Intrinsic Value

I Never Saw a Moor By Emily Dickinson I never saw a moor I never see the sea Yet know I how the heather looks And what a wave must be I never spoke with God Nor visited in heaven Yet certain am I of the spot As if the chart were given This poem tells about someone who never saw a moor and the sea. But she knew how the heather grows and looks. She also knew the condition in the sea, how the wave forces the corals. W ithout having experience to see them directly,  she used her imagination and she believed that they were exist. Even she can imagine them deeper by visualizing the heather and wave there. About the God and heaven, she never spoke with God because she never saw God and she never visited the heaven too. But by her faith, she believed that God exists and she can communicate with Him in her prayer. She felt that she is of the spot where God is. She believed if God nears her. She also believed that the heaven exists, as if she was given by God...

PUISI "UTUH"

UTUH Oleh : Indri Indrayani Aku suka ketika bersamamu menapaki jalan yang sama Di bawah cahaya rembulan separuh dan pernak-pernik bintang di atap langit sana Harum semerbak sehabis hujan gerimis Aku lebih suka ketika jalan itu tak berujung Aku suka ketika memeperhatikanmu diam-diam Satu sisi wajah rupawan Disamarkan helaian rambut yang dibelai angin kemudian Aku suka ketika bersamamu terjaga di seperempat malam Mengalun merdu untaian nada dan sonata indah tercipta sempurna Ketika kau mengucapkan kata-kata cinta, penuh makna Sehingga aku percaya jika salju pun akan terasa hangat Itupun jika kau yang mengatakannya Aku masih suka ketika kau tak berwarna seperti biasanya Pucat pasi lemah tak berdaya Satu sisi yang kau punya Aku suka kau sambut tanganku Kemudian bangkit, berjalan lagi dan kembali merona Aku suka kau apa adanya, semuanya… Utuh… Gerimis di langit senja, 17 Desember 2012

CERPEN "Nada Sumbang"

Nada Sumbang Oleh : Indri Indrayani  G-C-D-Dsus4-C. Melodi pertama selesai. Ternyata permainan gitarku sudah lumayan. Apalagi ketika membayangkan wajahnya nan rupawan, petikan senarku terasa lebih bernyawa dan entah kenapa serasa ada energi gaib yang merasuk sehingga semangatku naik beberapa kali lipat. Satu lagu cinta akan ku persembahkan kepadanya, Conan. Sebenarnya baru satu bulan belakangan ini aku berlatih memainkan gitar akustik. Dan nampaknya aku boleh sedikit  berbangga hati karena ternyata permainan gitarku lumayan bagus untuk kelas pemula. Jujur, aku tidak begitu suka gitar. Tapi karena seseorang yang bernama Conan, aku mulai mencintai gitar. Conan itu seorang gitaris. Kami satu kelas dan banyak perempuan di kelas yang menyukai Conan, salah satu dari mereka itu adalah aku. Aku memang salah satu dari banyak bunga yang kagum akan sosoknya. Tapi aku tidak ingin menjadi bunga taman yang hanya diam dan bergoyang sesekali ditiup angin. Aku ingin menjadi bunga...

CERPEN "TIGA"

TIGA Oleh : Indri Indrayani Ini adalah kisahku, kisah yang mungkin biasa-biasa saja bagi pembaca. Jadi, kusarankan agar tidak usah kalian membacanya. Kecuali kalian benar-benar peka dengan apa yang akan aku ceritakan. Dari kisah yang sederhana, terdapat gemuruh batin di dalamnya. Bagai terperangkap dalam gelembung sabun yang kemudian mengudara dan pecah seketika. Jika ditarik garis lurusnya, ini adalah kisahku dengan dua sahabat karibku yang pada akhirnya sibuk dengan urusannya masing-masing. Kisah tiga orang sahabat dan pilihan ketiga yang sangat berarti bagiku. Sederhana bukan? Tapi aku masih berbaik hati pada kalian, jika kalian masih ingin membaca kisahku, bacalah. Saranku, jangan hanya membaca. Pekalah! Mungkin itu pilihan bijak karena aku khawatir kau malah akan disergap kebosanan. Kami bertiga adalah sahabat karib. Aku mengira hal itu adalah kebenaran karena aku merasakan bahwa mereka berdua adalah orang terdekat selain keluargaku sendiri. Tidak, bahkan mereka su...